ADAKAH KEDUDUKAN MERTUA SAMA DENGAN MERTUA TIRI?

keluarga-besar-bahagiaDi dalam surah an-Nisa’ ayat 23 Allah telah menjelaskan perempuan-perempuan yang diharamkan ke atas lelaki untuk dinikahi kerana terdapat sebab tertentu, yaitu (1) kekerabatan; (2) susuan; dan (3) Musoharah (perkawinan). Pokok perbahasan di atas terdapat dalam ayat 23 surah an-Nisa’ :

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa : 23)

Maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. Dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. Sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut Jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.

sarimbit-keluarga-muslimBerdasarkan ayat tersebut jelaslah  Allah Ta’ala melarang seseorang lelaki menikah dengan isteri anak kandungnya berdasarkan kata aslabikum (anak kandungmu). Pengharaman itu juga termasuk isteri bagi anak susuan, kerana  berdasarkan hadits, “Diharamkan daripada susuan apa-apa yang diharamkan karena sebab nasab.” (HR. Bukhari). Karenanya, bapak mertua yang menjadi mahram muabbad (selama-selamanya) bagi seseorang perempuan (menantu), adalah karena faktor nasab dan susuan. Oleh karenanya, bapak tiri bagi suami (bapak mertua tiri) bukanlah menjadi mahram bagi perempuan tersebut. Sekiranya suami bagi perempuan tersebut meninggal dunia, maka tidak menjadi kesalahan bagi bapak mertua tiri untuk menikah dengan perempuan tersebut (menantu tiri).

Berkaitan anak tiri juga dijelaskan di dalam ayat 23 an-Nisa’, “Diharamkan bagi kamu anak-anak isteri mu yang di dalam pemeliharaan mu, dari isteri yang telah kamu campuri.” Ulama mentafsirkan maksud rabibah seperti di dalam ayat ialah anak perempuan bagi isteri dari bekas suaminya. Jelaslah di dalam ayat tadi Allah Taala telah melarang seseorang lelaki untuk menikah dengan anak perempuan tirinya setelah ia menyetubuhi ibunya. Pengharaman yang dinyatakan di dalam ayat hanyalah melibatkan seorang lelaki dengan anak perempuan tiri, lantaran itu menantu perempuan tiri tidak termasuk kategori yang dinyatakan.

sarimbit-muslim-revisiKesimpulan   

  1. Kedudukan bapak mertua tidak sama dengan bapak mertua tiri. Hubungan bapak mertua dengan menantu perempuannya adalah hubungan mahram. Sedangkan, hubungan antara bapak mertua tiri dengan menantu tiri adalah sebaliknya. Pengharaman kepada bapak mertua menikah dengan menantunya adalah bersifat selama-lamanya (muabbad), manakala bapak mertua tiri dengan menantu tirinya adalah bersifat sementara.
  2. Di dalam kitab Mughnil Muhtaj karangan syeikh khatib as-Syarbini menyatakan sekiranya suami perempuan tersebut meninggal dunia, tidak menjadi kesalahan bagi bapak tiri bagi suaminya untuk menikah dengannya, kerana kedudukan isteri bagi anak tiri (menantu tiri) tidak sama dengan isteri bagi anak kandung (menantu).
  3. Wajib bagi perempuan tersebut  sentiasa menjaga batasan auratnya seperti yang ditetapkan oleh syriat, seperti ketika ia berhadapan dengan lelaki ajnabi yang lain. Artinya, tidak dibenarkan mereka berdua-duaan kerana jelas mereka bukanlah mahram.

Sumber : http://teratak.wordpress.com/2011/10/17/batasan-anak-menantu-mertua-mertua-tiri/ (dengan sedikit perubahan dan penyelarasan).

Untuk menambah penjelasan, berikut kami sampaikan penjelasan dari Al Ustadz Muhammad Asnur hafizhahullah

Tanya: 

Bismillaah.
Ustadz mau tanya. Mertua(bapak dari istri) yang menikah lgi, apakah istri baru dari mertua tersebut menjadi mahram bagi menantunya yang laki2? Jazakallaahu khairan wa barakallahu fiyk.

Jawab: 

Bukan mahram bagi menantunya yang laki karena istri laki tersebut bukanlah anak kandung dari wanita tersebut yang dinikahi oleh bapaknya sehingga ibunya tersebut adalah ajnabi bagi laki tersebut yang mana jika seandainya bapak wanita tersebut menceraikannya boleh bagi suami anak wanitanya untuk menikahinya (istri baru tersebut) karena dia teranggap bukan mahram bagi lakinya sebab dia adalah ibu tiri bagi istri sang laki tersebut…Baarakallaahu fiek.

sumber : http://www.darul-ilmi.com/2013/01/ibu-tiri-isteri-apakah-dia-mahram-kita/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: