Shalat Berjamaah Sarana Memperbaiki Penampilan

shalat-berjamaah-di-sebuah-masjid-di-amerika-serikat-_110325191156-597Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa hubungannya antara shalat berjamaah di masjid dengan penampilan seseorang? Sekilas memang tidak ada kaitan antara keduanya; yang satu perkara duniawi, sedangkan yang satunya bersangkutan dengan ibadah mahdhah. Namun, bila kita cermati firman Allah T’ala berikut ini, persoalannya akan semakin terang dan gamblang. Allah Ta’ala berfirman :

يابنى ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُواْ واشربوا وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ المسرفين

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf : 31).

Berkaitan dengan firman Allah Ta’ala, “Pakailah pakaianmu yang indah,” Imam Mawardi menjelaskan bahwa ayat di atas mengandung empat makna; Pertama, perintah untuk menutup aurat saat melaksanakan thawaf . Kedua, perintah untuk menutup aurat saat melaksanakan shalat. Ketiga, perintah untuk memperindah diri dengan mengenakan pakaian yang terbaik saat menghadiri shalat berjamaah dan saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Keempat, perintah untuk menyisir jenggot. (An-Naktu wal Uyun, Mawardi).

Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Perintah ini ditujukan kepada segenap anak Adam meskipun ayat tersebut diturunkan karena sebab khusus. Yang dipandang adalah keumuman lafazh, tidak khususnya sebab. Adapun zinah dalam ayat tersebut maknanya adalah pakaian yang dijadikan perhiasan oleh manusia. Mereka diperintahkan untuk berpakaian indah ketika pergi ke masjid-masjid untuk shalat atau thawaf.” (Fathul Qadir, II : 228)

Bagi kaum laki-laki, di antara bentuk berhias saat mengahdiri shalat berjamaah adalah dengan memakai minyak wangi. Hal ini diperkuat dengan sabda Nabi SAW , “Apabila salah seorang di antara kalian menyaksikan waktu Isya’ -dalam sebuah riwayat disebutkan : masjid- maka hendaklah dia memakai wangi-wangian pada malam itu.” (HR. Muslim)

Di sisi lain, ada sebuah larangan menghadiri masjid dengan membawa aroma tubuh yang tidak sedap. Dari Abdul Aziz, yakni Ibnu Shuhaib, ia berkata, “Anas pernah ditanya perihal bawang putih. Ia menjawab, “Rasulullah n bersabda :

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلاَ يَقْرَبَنَّا وَلاَ يُصَلِّي مَعَنَا

“Barangsiapa yang makan dari pohon ini, maka janganlah ia mendekati kami da jangan shalat bersama kami.”[1]

Imam Nawawi menjelaskan makna hadits di atas seraya mengatakan, “Larangan ini berkaitan dengan menghadiri masjid, bukan larangan mengkonsumsi bawang merah dan bawang putih, atau sejenisnya. Sebab, makanan tersebut secara ijma’ ulama halal untuk dikonsumsi.”[2]

Inti dari larangan di atas adalah mengkonsumsi segala macam makanan yang dapat menimbulkan aroma yang kurang sedap, dan tidak terbatas pada bawang merah, bawang putih, atau bawang bakung saja. Hal inilah yang ditegaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab Sarahnya, “Para ulama mengatakan, bahwa disamakan juga hukumnya dengan bawang merah, bawang putih, serta bawang bakung, yaitu segala makanan atau yang lainnya yang mengandung aroma yang tidak sedap.”[3] Demikian juga berkaitan dengan tempatnya. Bukan hanya masjid saja yang dilarang dimasuki oleh seseorang yang memakan makanan yang dapat menimbulkan aroma yang kurang sedap tersebut. Imam Nawawi menjelaskan, “Para ulama berpendapat bahwa hukum yang disamakan dengan masjid di sini adalah segala tempat shalat selain masjid, seperti lapangan saat pelaksanaan shalat Ied, tempat saat pelaksanaan shalat jenazah, dan lainnya. Juga tempat-tempat menuntut ilmu, berdzikir, tempat walimah, dan sejenisnya. Namun, pasar tidak termasuk di dalamnya.”[4]

Yang juga bisa dikategorikan dengan bawang merah dan bawang putih ini adalah tembakau atau rokok dengan segala jenisnya, karena aromanya yang tidak sedap. Demikian juga aroma tidak sedap yang berasal dari telapak kaki, kaos kaki, atau pakaian kerja yang penuh dengan keringat. Termasuk juga orang-orang yang tidak menganti pakaian mereka pada waktu shalat, sehingga mereka membuat jamaah merasa tersiksa dan ingin menjauhi mereka yang menyebabkan shaf shalat acak-acakan.[5]


[1] Diriwayatkan oleh Muslim, hadits no. 872.

[2] Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawi (Dar Ihya’it Turats Al-‘Arabi;Baerut, 1309) V : 48.

[3] Ibid..

[4] Ibid.

[5] Fiqih Shalat Khusyuk, Muhammad Manshur Ad-Daqqawi (WIP; Solo, 2007) cet. 1, hal. 151.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: