Shalat Berjamaah Dapat Menghadirkan Nuansa Ibadah di Zaman Nabi SAW

130408_shalat-idul-adha-di-masjid-istiqlal_663_382Generasi sahabat Nabi SAW adalah generasi terbaik umat ini. Mereka telah diberikan anugerah yang begitu besar, yakni kesempatan bertemu dan menemani Nabi-Nya SAW. Allah Ta’ala telah memilih mereka untuk mendampingi dan membantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menegakkan agama-Nya. Orang-orang pilihan Allah ini, tentunya memiliki kedudukan istimewa di bandingkan manusia yang lain. Karena Allah Ta’ala tidak mungkin keliru memilih mereka. Maka, Rasulullah SAW bersabda berkaitan dengan kondisi mereka :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)

Bagi seorang muslim, mencontoh gaya hidup mereka merupakan pilihan tepat. Dalam masalah shalat berjamaah misalnya. Bagi yang hendak meneladani mereka dalam mengerjakan shalat berjamaah dengan menghadirkan nuansa yang terjadi kala itu, tentu akan memberikan rasa tersendiri dalam jiwa. Semangat beribadahnya akan semakin bertambah. Kecintaannya kepada para sahabat akan semakin tebal. Plus, menghidupkan sunnah Nabi SAW. Dan tak disangsikan lagi, adanya keterkaitan orang-orang yang hidup di akhir zaman dengan pendahulunya di zaman permulaan Islam merupakan motivator kuat dalam mengikuti salaf dan petunjuk mereka.

Berikut sekelumit potret nuansa shalat berjamaah di masa Nabi SAW yang seyogyanya menjadi cambuk bagi kita untuk senantiasa istiqomah dalam menjalannya.

Di zaman Nabi SAW, karena saking bersemangatnya orang menghadiri shalat berjamaah di masjid sampai-sampai ada yang dipapah dua orang di kiri-kanannya agar ia bisa shalat berjamaah di masjid.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata, “Barangsiapa ingin bertemu Allah esok hari sebagai seorang muslim, maka ia harus menjaga benar-benar sholat pada waktunya ketika terdengar suara adzan. Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala telah mensyari’atkan (mengajarkan) kepada Nabi SAW beberapa Sunanul Huda (perilaku berdasarkan hidayah/petunjuk) dan menjaga shalat itu termasuk dari Sunanul Huda. Andaikan kamu shalat di rumah sebagaimana kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad SAW. Dan bila kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad SAW pasti kamu tersesat. Maka tidak ada seseorang yang bersuci dan dia sempurnakan wudhunya kemudian ia berjalan ke masjid di antara masjid-masjid ini kecuali Allah subhaanahu wa ta’aala mencatat bagi setiap langkah yang diangkatnya menjadi kebaikan yang mengangkat derajatnya dan bagi setiap langkah yang diturunkannya menjadi penghapus kesalahannya. Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad SAW tiada seorang tertinggal dari shalat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya. Sungguh adakalanya seseorang itu dihantar ke masjid didukung oleh dua orang kanan kirinya untuk ditegakkan di barisan saf.” (HR Muslim 3/387).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: