3 Ibadah Pagi Hari

1. Shalat Tahajjud dan Istighfar pada Waktu Sahur

Terkait amalan-amalan sunnah shalat, As-Sunnah Nabawiyah telah mengajarkan kepada kita bahwa shalat malam adalah salah sunnah yang paling utama secara mutlak. Dalam sebuah hadits disebutkan :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Sementara, shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[2]

Seorang sahabat mulia, Amru bin Al-Ash a mengatakan, “Satu raka’at pada malam hari itu lebih baik dari sepuluh raka’at pada siang hari.”[3]

Ada sejumlah alasan pengutamaan ibadah sunnah ini dibandingkan dengan ibadah-ibadah sunnah lainnya yang dapat kami simpulkan sebagai berikut :

Pertama, shalat pada malam hari akan memberikan keselarasan antara hati dan lisan, sehingga seseorang akan lebih menghayati dalam shalat malam. Al-Quran pun telah mengisyaratkan hal ini yang tertera dalam firman Allah Ta’ala, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) pada malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun pada waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan.” (Al-Muzzammil [73] : 1-6)

Kedua, waktu malam, terutama mendekati waktu fajar, adalah waktu yang paling utama. Pada waktu itu pintu-pintu langit dibuka dan Allah turun menemui hamba-Nya, sehingga shalat, doa, dan ibadah yang lainnya yang dilakukan pada waktu tersebut lebih utama dibandingkan bila dilakukan pada waktu yang lain. Dalam sebuah hadits disebutkan :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir seraya berfirman, ‘Adakah yang berdoa kepada-Ku sehingga akan akan mengabulkannya? Adakah yang meminta kepada-Ku sehingga aku memberinya? Adakah yang meminta ampun kepada-Ku sehingga aku mengampuninya?’[4]

Rasulullah n juga bersabda :

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Paling dekatnya Tuhan kepada hamba-Nya adalah pada sepertiga malam yang terakhir. Bila engkau mampu termasuk orang-orang yang berdzikir kepada Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah.”[5]

Ketiga, shalat malam adalah amalan sunnah yang paling berat bagi jiwa dibandingkan dengan amalan-amalan sunnah lainnya. Pasalnya, shalat tersebut harus dilakukan pada malam hari yang merupakan waktu istirahat. Dengan demikian, shalat pada waktu tersebut merupakan bentuk perjuangan jiwa yang karenanya akan diberikan pahala yang berlipat ganda dan pengampunan dosa. Dalam sebuah hadits disebutkan :

الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

“Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api, demikian pula shalatnya seseorang pada keheningan malam.”

Nabi n senantiasa menekuni amal ketaatan ini sepanjang hayat beliau, hingga beliau tidak pernah meninggalkannya saat beliau sakit. Dari Ummul Mukminin, Aisyah x, ia berkata kepada Abdullah bin Abi Qais, “Janganlah engkau tinggalkan shalat malam. Karena, Rasulullah n tidak pernah meninggalkannya. Bila beliau tengah sakit atau malas, maka beliau melakukannya sambil duduk.”[6]

Kesungguhan Nabi n dalam melaksanakan shalat malam sampai membuat kedua kaki beliau bengkak karena berdiri sangat lama. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah a, ia berkata, “Nabi n berdiri (untuk shalat malam) hingga kedua kaki beliau bengkak. Dikatakan kepada beliau, ‘Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu yang akan datang.’ Beliau menjawab, ‘Tidak bolehkah bila aku menjadi hamba yang bersyukur?’”[7] Hal senada juga diriwayatkan oleh dari Ummul Mukminin, Aisyah x.

2. Shalat Subuh Tepat Waktu Secara Berjamaah

Rasulullah n bersabda :

مَنْ صَلَّى صَلاَةَ الصُّبْحِ فَهْوَ فِى ذِمَّةِ اللهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِى نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah, maka jangan sampai Allah menarik kembali jaminan-Nya dari kalian dengan sebab apa pun. Karena, siapa pun yang Allah cabut jaminan-Nya darinya dengan sebab apa pun, pasti akan tercabut. Kemudian, Allah akan telungkupkan wajahnya dalam neraka Jahannam.”[8]

Yang dimaksud dengan dzimatullah adalah janji, keamanan, atau jaminan-Nya. Dikhususkannya shalat Subuh dengan keutamaan tersebut dan tidak shalat-shalat yang lain, karena shalat Subuh mengandung beban berat. Oleh karenanya, orang yang melakukannya sangat memungkinkan untuk ikhlas. Maka, shalat Subuh tidak layak dikotori dengan sesuatu pun, meski sedikit. Bagi siapa saja yang melakukannya, maka sama artinya ia menyiapkan diri untuk mendapat murka dari Allah Ta’ala. Allah pasti akan mencabut jaminan-Nya dan Dia akan menelungkupkan wajah orang tersebut dalam neraka, selagi ia tidak mau bertaubat. Wallahu a’lam.[9]

Dari Abu Bakar bin Imarah bin Ruaibah dari ayahnya c, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda :

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

‘Orang yang mengerjakan shalat sebelum terbit dan tenggelamnya matahari tidak akan masuk neraka’.” [10] Yakni, shalat Subuh dan Ashar.

Dari Abu Bakar dari ayahnya, bahwasanya Rasulullah n bersabda :

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mengerjakan shalat Bardain,[11] maka ia masuk surga.”[12] Yakni shalat Subuh dan Ashr.

Berkaitan dengan alasan yang membuat shalat Subuh dan Ashar lebih utama daripada shalat-shalat yang lain, Al-Allamah Al-Munawi mengatakan, “Allah mengkhususkan keduanya lantaran kemuliaannya atau karena keduanya disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang. Atau, keduanya yang sangat berat bagi jiwa lantaran dikerjakan pada waktu sibuk dan kepayahan. Barangsiapa yang mampu memeliharanya, tentu ia akan lebih mampu memelihara shalat-shalat yang lain. Dan, barangsiapa yang mampu menjaga keduanya, tentu shalat-shalat yang lain akan lebih ia jaga.”[13]

Dari Amirul Mukminin, Utsman bin Affan a, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda :

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِى جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiap shalat Isyak secara berjamaah, ia seolah-olah shalat setengah malam. Barangsiapa shalat Subuh secara berjamaah, ia seolah-olah shalat semalam suntuk.”

3.  Dzikir Setelah Shalat Subuh Hingga Terbitnya Matahari

Tentang keutamaan menghidupakan waktu seperti ini dengan amal ketaatan dan dzikir, Nabi n bersabda :

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ

“Barangsiapa shalat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, lalu ia shalat dua raka’at, maka ia akan memperoleh pahala haji dan umrah.” Rasulullah n kemudian berkata, “Sempurna, sempurna, sempurna.”[14]

Di samping arahan-arahan yang bersifat teoritis seperti ini, kalangan salaf senantiasa menaruh perhatian untuk menghidupkan waktu tersebut untuk dzikir kepada Allah dan tidak membuang-buangnya dengan kelalaian dan tidur.

Dari Jabir bin Samurah a bahwa selepas shalat Subuh, Nabi n biasa duduk dan berdzikir hingga terbit matahari.[15]

Pada waktu-waktu tersebut dianjurkan untuk membaca dzikir waktu pagi. Yakni, sejumlah doa yang diriwayatkan dari Rasulullah n yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Bagi yang membacanya akan memperoleh pahala yang tak terhitung jumlahnya. Demikian pula, ketika matahari mulai meninggi, disyari’atkan shalat Dhuha. Ia adalah shalat yang sifatnya sunnah muakkad dari Rasulullah n. Bila seseorang menekuninya, ia akan tergolong orang-orang yang gemar bersyukur dan berdzikir.

Atas dasar hal di atas dan hal-hal yang lain, maka kita menyaksikan kalangan salafush shalih mencela orang-orang yang mendapati waktu seperti itu, namun mereka malah berada dalam kelalaian dan melewatkan keutamaannya dengan tidur. Dengan demikian, mereka telah menghalangi diri mereka sendiri untuk mendapatkan kebaikan yang melimpah.

Abu Nu’aim menyebutkan dalam kitab Hilyatul Auliya’ bahwasanya seorang sahabat mulia, Abdullah bin Amru bin Ash c, sepulang shalat Subuh, ia melintasi seseorang yang sedang tidur. Maka, ia pun mengerak-gerakkannya dengan kakinya, hingga orang tersebut bangun. Lalu, ia berkata kepadanya, “Tidakkah engkau tahu bahwa Allah k memperhatikan makhluk-Nya pada waktu seperti ini, lalu memasukkan sekelompok dari mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya.”[16]

Bahkan, kalangan salaf—semoga Allah mencurahkan keridhaan-Nya kepada mereka—mengategorikan orang-orang yang menghidupkan waktu tersebut dengan ibadah ketaatan dan dzikir termasuk syarat munculnya sifat muru’ah.[17] Mis’ar bin Kidam pernah ditanya tentang muru’ah, maka ia menjawab, “Kedalaman dalam beragama, selalu berada masjid hingga terbitnya matahari.”[18]

*Disarikan dari buku : Berkah Bangun Pagi, Prof. Dr. Thal’at Afifi Salim, Zamzam.

 


[2] Diriwayatkan oleh Muslim, kitab Ash-Shiyam, bab Fadhlu Shiyamil Muharram, II : 812; Abu Dawud, kitab Ash-Shiyam, bab Fi Shaumil Muharram, I : 615; Tirmidzi, Abwabush Shalah, bab Ma Ja’a fi Fadhli Shalatil Lail, II : 30; Nasai, kitab Qiyamul Lail wa Tathauwu’un Nahar, bab Fadhl Shalatil Lail, III : 168; dan Ahmad, II : 344.

[3] Latha’iful Ma’arif fi Ma li Mawasimil ‘Am minal Lazha’if, hal. 36, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, Darul Fath, t.th.

[4] Diriwayatkan oleh Bukhari, kitab Qiyamul Lail, bab Ad-Du’a wash Shalah min Akhiril Lail, I : 200; Abu Dawud, kitab As-Sunnah, bab Fir Radd ‘alal Jahmiyah, II : 585; Tirmidzi, kitab Ad-Da’awat, V : 526, hadits no. 79; dan Ahmad, I : 388.

[5] Diriwayatkan oleh Tirmidzi, kitab Ad-Da’awat, V : 570, hadits no. 119. Ia berkata, “Hadits hasan shahih.”; Nasai, kitab Al-Mawaqit, bab An-Nahyu ‘anish Shalah Ba’dal Ashri, I : 224.

[6] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, kitab At-Tathawu’, bab Qiyamul Lail, I : 329; dan Ahmad, I : 249.

[7] Diriwayatkan oleh Bukhari, kitab At-Tafsir, Surat Al-Fath dan lafazh ini ada padanya, III : 189.

[8] Diriwayatkan oleh Muslim, kitab Al-Masajid wa Mawadhi’ush Shalah, bab Fadhlu Shalatil Isya’ wash Shubh fi Jama’ah, I : 454.

[9] Lihat Faidhul Qadir Syarhul Jami’ish Shaghir, karya Al-Allamah Al-Munawi, VI : 164.

[10] Diriwayatkan oleh Muslim, kitab Al-Masajid wa Mawadhi’ush Shalah, bab Fadhlu Shalataish Shubhi wal Ashr wal Muhafazhah ‘alaiha, I : 440.

[11] Shalat Subuh dan Ashar dinamakan Bardain karena keduanya dikerjakan di dua waktu yang dingin pada siang hari, yakni pada penghujung waktu terputusnya sengatan panas matahari. Ibnu Atsir mengatakan dalam kitab An-Nihayah, I : 114, tema : Barada,Al-Bardan dan al-abradan adalah pagi dan sore hari. Ada yang mengatakan waktu gelap pagi dan sore hari.”

[12] Diriwayatkan oleh Bukhari, kitab Al-Mawaqit, bab Waktul Isya’ ila Nishfil Lail, I : 109; dan Muslim, kitab Al-Masajid wa Mawadhi’ush Shalah, bab Fadhlu Shalataish Shubhi wal Ashr wal Muhafazhah ‘alaiha, I : 440.

[13] Ibid.

[14] Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia menghasankannya, kitab Ash-Shalah, bab Dzikr Ma Yustahabbu minal Julus fil Masjid Ba’da Shalatish Shubhi Hatta Tathlu’usy Syams, II : 481.

[15] Al-Haitsami menyebutkannya dalam kitab Majma’uz Zawa’id, X : 107. Ia berkomentar, “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, sedangkan para rawinya adalah tsiqah.”

[16] Hilyatul Auliya’, I : 290.

[17] Banyak yang mendefinisikan makna muru’ah. Definisi yang paling mencakup segala sisinya, bahwa yang dimaksud dengan muru’ah adalah merealisasikan setiap akhlak yang baik dan menjauhi segala akhlak yang buruk.

[18] Shalahul Ummah fi Uluwil Himmah, V : 355, karya Sayyid Hasan Al-Affani, cet. III, 1999 M, Muassasah Ar-Risalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: