Kisah Lelaki di Samping Sandal

Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad pernah bercerita, “Ada seorang imam masjid tengah berada di masjid sambil membaca Al-Quran. Bersamanya, ada sejumlah orang yang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Waktu itu adalah antara adzan dan iqamah.

Tiba-tiba ada seorang laki-laki termanggu di depan masjid di sekat tempat sandal dan sepatu. Lalu, ia tersungkur. Aku mendengar suara yang keras dari orang tadi. Aku terheran-heran sembari membatin, ‘Mungkin orang itu adalah orang gila atau tidak waras.’ Serta praduga-praduga lainnya.

Orang tadi pun masuk masjid dengan tenang lalu duduk di dalam masjid. Shalat pun dimulai, dan aku menjadi imam shalat. Selepas shalat, aku menunggu sebentar untuk berdzikir, sedangkan mayoritas makmum telah keluar masjid.

Saat aku keluar, aku melintasi orang tadi dan mengucapkan salam kepadanya. Dalam hati, aku membatin, Ya Allah, bagaimana mungkin mempredikdi orang lain, sedangkan aku sendiri tidak tahu pasti apa yang terjadi sebenranya. Aku melihat kedua mata orang tadi memereh dan ada tanda-tanda bahwa selesai menagis.

Aku bertanya kepadanya, “Akhi, sebelum shalat telah memperhatikanmu melakukan begini dan begini. Apa ada satu masalah?”

Ia menjawab, “Ya. Tidak hanya satu masalah, tapi ada sejumlah masalah.”

Aku bertanya, “Apa itu?”

Ia menjawab, “Sudah lama sekali aku telah menyatakan dalam diri bahwa aku akan menjaga agar aku selalu akan mendapati takbiratul ihram, lantaran sebuah hadits Nabi SAW dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang shalat untuk Allah selama 40 hari dengan berjamaan dan mendapati takbiratul ihram, maka akan ditetapkan baginya terbebas dari api neraka dan terbebas dari kemunafikan.” Hari ini adalah hari ke 40. Tapi, aku terserang rasa malas. Aku terjaga saat aku mendengar suara imam yang tengah mengerjakan shalat. Aku sangat sedih sekali. Aku memacu mobilmu untuk mencari masjid sembari menangis penuh kesedihan meratapi kondisiku ini, sebab aku tidak bias mendapati takbiratul ihram. Padahal hari ini adalah hari pembebasanku. Aku banyak-banyak berdoa kepada Allah. Dan, ketika aku sampai di masjid kalian ini dan aku belum mendengar suara imam memulai shalat, mama aku membatin, bahwa mereka belum memulai shalat. Saat aku masuk masjid, aku mendapati kalian tengah membaca Al-Quran. Berarti, kalian belum memliau shalat. Aku tak kuasa, hingga aku bersujud di hadapan Allah lantaran rasa syukur dan senang sembarai berharap, semoga hari ini adalah hari pembebasanku.”

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: