Green Deen; Inspirasi Islam dalam Menjaga dan Mengelola Alam

Buku ini saya dapatkan langsung dari penerbit Zaman saat saya coba-coba mengikuti kuis yang di adakan oleh pihak penerbit. Alhamdulillah, jawaban saya masuk kategori yang terpilih. Saat itu pertanyaannya begini : “Layakkah Islam disebut sebagai agama yang peduli terhadap lingkungan? Apa pendapatmu?”

Dengan pemahaman yang saya miliki, saya mencoba menjawabnya : “Islam sangat tepat disebut sebagai agama penduli terhadap lingkungan. sebab, Islam menjadi rahmat bagi alam semesta. Dalam masalah air, kita dilarang kencing/berak di dalam air yang tidak mengalir. Rasul SAW bersabda, “Janganlah kalian buang air kecil (atau besar) di air yang diam yang tidak mengalir, lalu ia mandi dari air itu (yang dimaksud selain danau atau kolam besar).” (Shahih Bukhari).
Dalam masalah lingkungan, kita dilarangan membuat kerusakan di muka bumi. Allah berfirman, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” (QS. Al-A’raf : 56). Islam melarang merusak pepohonan. Abu Bakar pernah melarang pasukan kaum muslimin untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk suatu negeri atau menebang pepohonan yang ada.
Dalam berburu, Islam melarang menjadikan burung hanya sebagai sasaran untuk berlatih ketepatan membidik.”

Ibrahim Abdul-Matin

Setelah mendapatkan buku “GREENDEEN” ini, yang ditulis oleh Ibrahim Abdul Matin, seorang muslim warga Negara AS, ternyata saya temukan sejumlah analisa penulis yang berujung pada kesimpulan bahwa Islama adalah agam yang sangat peduli terhadap lingkungan. Ada sejumlah dalil yang disampaikan. Namun, yang membuat saya terkesan dengan pemaparan penulis adalah penelaahan penulis terhadap sebvuah teks al-Quran atau hadits dengan kaca mata keilmuannya sebagai seorang pemerhati lingkungan. Saya ingin menengahkannya beberapa contohnya.

Pertama, perihal hadits yang berbunyi, “Ju’ilat al-ardhu kulluha masjidan,” seluruh bumi dijadikan masjid. Dalam pandangan penulis, selain berarti kita boleh mengerjakan shalat di tempat mana pun yang bersih dan suci, ada pesan tersirat untuk memelihara alam

Kedua, perihal hadits yang terkenal yang menyatakan bahwa Nabi saw ketika makan selalu mengambil yang terdekat dengannya. Bagi penulis, hadits ini mendorong kita untuk mendapatkan makanan dari sumber-sumber lokal.

Tentu kita sangat jarang mendengar penjelasan hadits seperti itu, dan mungkin di antara kita akan menilai bahwa penulis terlalu berani dalam menafsirkan sebuah nash syar’i. Dalam pandangan saya, penulis menyampaikan penjelasan tersebut dilator belakangi oleh kapasitas keilmuan dia, dalam masalah ini ia berkecimpung dalam usaha menyelamatkan lingkungan hidup.

Bagi yang ingin mendalami masalah lingkungan hidup dan usaha menghijaukan lingkungan, buku ini sebagai alternative rujukan dan referensinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: