Hidup Itu Seperti Berada di Supermarket

Syaikh Ahmad bin Ali Al-‘Ajami || Hidup itu laksana ‘Supermarket’. Engkau bisa berkeliling di dalamnya dan mengambil apa saja yang engkau mau. Namun, ingatlah, di depan sana ada kasir dan engkau harus membayar segala sesuatu yang telah engkau ambil ||

Tentu kita pernah sekali atau berkali-kali mengunjungi supermarket, entah untuk berbelanja atau hanya sebatas ingin jalan-jalan. Segala sesuatu ada di sana. Pembeli tinggal memilih apa saja yang hendak dibeli, tanpa harus menanyakan harganya terlebih dahulu, karena harganya telah tertera di barang-barang tersebut. Ini sebagai bentuk kemudahan bagi konsumen.

Terus terasng, saya tertarik dengan perumpamaan yang disampaikan oleh Syaikh Ahmad bin Ali Al-Ajami di atas. Bahwa, hidup ini laksana berada di sebuah supermarket. Tentu, sebelum kita berangkat ke supermarket, kita telah berbekal catatan atau sebatas keinginan barang apa yang hendak kita beli. Ada barang-barang yang prioritas yang harus kita beli, biasanya kebutuhan pokok. Dan tentu kita telah mengetahui bahwa supermarket tersebut buka dari jam sekian dan tutup di jam sekian. Demikian juga, kita hidup diberi bekal dengan sebuah kewajiabn yang harus kita tunaikan dan berbagai larangan yang harus kita hindari. Kita juga menyadari bahwa dunia kita dimulai sejak kita lahir hingga kematian menjemput kita.

Demikian pual, saat berada di dalam supermarket kita bias mengambil apa saja dan meninggalkan apa saja. Bagi yang memiliki konsep yang jelas tujuan dia berada di supermarket tersebut, tentu ia akan membeli barang-barang yang memang dibutuhkan dan diperlukan selepas ia keluar dari supermarket tersebut. Namun, bagi sebagian orang, ia malah terlena dan tertarik kepada barang-barang yang sebenarnya ia sendiri tidak membutuhkan, sehingga barang-barang pokok yang seharusnya ia beli malah tidak jadi terbeli. Bahkan, ada dari sebagain mereka yang berlaku curang dengan mengambil-barang dengan tujuan ingin mencurinya. Demikian pula, di dunia ini masing-masing dari kita diberi pilihan untuk melakukan sesuatu. Bagi seorang mukmin, ia akan memeang teguh tujuan dia berada di dunia ini, yaitu beribadah kepada Allah dan mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan setelah dunia ini. Namun, ada sebagain orang yang memilih untuk melakukan hal-hal yangtak berguna bagi kehidupan dunianya, apalagi untuk akhiratnya. Malah, ada sebagain orang yang nekad melakukan pelanggaran-pelanggaran yang beraikabat ancaman baginya kelak di akhirat.

Setelah berbelanja, tentu kita sadar bahwa di depan ada kasir yang akan menghitung segala barang belanjaan kita. Tak ada yang luput dari hitungan si kasir. Besar kecil, barang mewah ataupun barang murahan pasti akan dihutungnya untuk dimintai pertanggung jawababn, berupa membayarnya. Demikain pula, seseorang akan dimintaipertanggungjawaban atas apa yang telah ia lakukan, baik amal kebajikan maupun amal buruk. Semuanya pasti dihisab dan akan dibalas sesuai dengan apa yang telah ia lakukan. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: