Bakti Orang Tua, Kunci Surgamu

Melihat perjalanan seorang anak, beban dan tanggung jawab seorang ibu sangat berat. Sejak dalam kandungan, seorang ibu telah berjuang mati-matian untuk menjaga dan memelihara sang bayi. Ketika melahirkan, seorang ibu melakoni perjuangan berikutnya untuk menyelamatkan sang bayi agar sampai kepada kehidupan dunia. Perjuangan antara hidup dan mati. Bahkan, seorang ibu tidak lagi memperdulikan keadaannya sendiri. Yang menjadi perhatian utamanya adalah menyelamatkan sang jabang bayi. Tanggung jawab berikutnya yang harus diemban seorang ibu adalah menyusui sang anak hingga dua tahun. Sungguh indah pengabaran Al-Quran atas perjuangan seorang ibu. Allah Ta’ala berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan…” (Al-Ahqaf [46] : 15).

Dalam Islam, konsep berbakti kepada ibu lebih didahulukan daripada kepada ayah. Hal ini menilik betapa berat perjuangan seorang ibu dalam kehidupan seorang anak, sejak usia janin hingga batas waktu yang tak terbatas. Abu Hurairah a berkata, ‘Seseorang pernah datang kepada Rasulullah n dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi n menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu!’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Bapakmu.’ (HR. Bukhrai dan Muslim).

Imam Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata, “Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.”

Bagi pembaca yang masih mendapati ibunya masih memiliki usia panjang, maka jangan lewatkan kesempatan emas tersebut tuk berbaikti kepadanya. Sebab, sering kali kita temui orang-orang yang menyesal karena terlewatnya kesempatan emas ini. Maka, jangan sia-siakan ini. Segeralah berbakti kepada orang tua, khususnya kepada ibu. Sebab, hanya seorang anak yang shalih yang mengetahui nilai sebuah perjuangan seorang ibu.

Berbakti kepada ibu banyak ragamnya. Salah satunya adalah dengan senantiasa mendoakan kebaikan untuk ibunda tercinta. sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Abu Hurairah ra dalam berbakti kepada ibunya. Ia senantiasa mendoakan kebaikan kepadanya saat keluar masuk rumah. Hal tersebut senantiasa ia lakukan demi mewujudkan visi seorang anak yang berbakti kepada ibu. semoga kisah berikut mampu membuka mata hati kita, sehingga tergerak untuk segera berbakti kepada ibu.

Dari Abu Murrah, ia menuturkan, “Ketika hendak keluar rumah, Abu Hurairah ra senantiasa berdiri di depan pintu rumah ibunya seraya berkata, “As-Salamu ‘alaiki ya ummatah wa rahmatullahi wabarakatuh (Semoga keselamatan, rahmat, dan barakah Allah senantiasa tercurah kepadamu, wahai ibunda).”

Sang ibu menyahut, “Wa ‘alaika salam ya bunayya wa rahmatullahi wa barakatuh (Dan, semoga keselamatan, rahmat, dan barakah juga tercurah untukmu, wahai putraku.”

Abu Hurairah pun berkata, “Semoga Allah merahmatimu, sebagaimana engkau telah mendidikku sewaktu aku kecil.”

Sang ibu menyahut, “Dan, semoga Allah juga merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku telah lanjut usia.” Ketika Abu Hurairah ingin masuk rumah, ia pun melakukan hal serupa.

Semoga kita mampu meniru gaya hidup Abu Hurairah ra dalam berbakti kepada ibu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: