Membentengi Anak dengan Doa

Syaikh Dr. Muhammad Al-Arifi, dalam cemarahnya yang berjudul Ma’uliyatur Rajuli fi Usratihi, mengisahkan tentang salah seorang sahabatnya, yang suatu ketika berpergian naik mobil bersamanya di Jeddah. Dalam mobil itu, temannya mengajak dua orang anaknya yang berumur sekitar empat atau lima tahun. Ia tahu bahwa temannya itu mukan tipe laki-laki multazim (taat beragama). Namun, ketikamobil hendak naik jalan laying, serempak anak-anaknya bertakbir.

Ia tahu, bahwa Nabi saw dalam safarnya bila menapaki jalan mendaki beliau bertakbir dan bila menuruni lembah beliau bertasbih. Rupanya anak-anaknya paham bila sedang menanjak disunnahkan bertakbir dan bile sedang turun disunnahkan bertasbih. Ia heran, mengingat ayahnya bukan tipe laki-laki multazim. Loalu darimana mereka memperoleh tarbiyah semacam itu? Kemudian, karena diusuk rasa penasarannya, ia pun bertanya secara terus terang tentang hal itu.

“Akhi, masya Allah, engkau bukanlah seorang santri dan bukan pula seorang aktivis, namun anak-anakmu mampu menerapkan sunnah sedemikian rupa. Apa rahasianya?” tanyanya.

“Istriku memang…masya Allah!! Semoga Allah membalas kebaikannya. Dia betul-betul ibu teladan. Dialah yang mengajari anak-anak doa sebelum tidur, doa bangun tidur, doa sebelum makan, doa setelah makan, doa masuk WC, doa keluar darinya, doa ini dan doa itu. Bahkan dia memiliki cara unik dalam mendidik anaknya,” lanjut orang itu.

“Bagaimana caranya?” tanya temanku.

Maka, jawabnya, “Kalau sekali waktu anak-anak bertengkar di rumah, lalu salah satu berkata kasar kepada saudaranya, lalu istriku memanggilnya,

“Wahai anakku, kemari sebentar.”

“Ada apa ma? Mama hendak memukulku ya?” tanya anakku.

“Enggak kok, nggak mama apa-apakan. Mama cuma mau tanya, siapa yang lebih kau sayangi, Allah ataukah setan?” kata istriku.

“Tentu aku lebih saying Allah,” jawab anakku polos.

“Tapi kamu sekarang kok mau jadi temannya setan?” kata ibunya.

“Lho, kenapa, ma?” tanya anakku.

“Karena kamu berkata kasar tadi. Kalau berkata kasar berarti kamu jadi temannya setan. Tuh, bisa jadi setan sekarang lagi duduk di atas punggungmu. Ia tertawa lebar mendengar ucapamu tadi.” Kata ibunya.

“Trus ma, bagaimana supaya setan mangis? Aku tak mau jadi temannya setan. Aku mau jadi temannya Allah (maklum, anak kecil, -pen),” kata ananku.

“Oo..gampang, kamu sekarang menghadap kiblat, lalu ucapkan astaghfirullah, seratus kali. Hayo, coba lakukan!” kata ibunya.

“Jadi, kalau aku melakukan itu, setan bakal nagis ya?” kata anakku.

“Iya. Kalau kamu lakukan itu, setan pasti nangis,” jawab jawab ibunya.

“Kalu begitu, aku mau istighfar sekarang. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah, ..udah belum, ma?”

“Belum, masih lima puluh lagi,” kata ibunya

“Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah, ..udah belum?” tanya anakku.

“Belum, tiga belas kali lagi,” kata ibunya.

Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah, ..udah?” tanyanya lagi.

“Ya, sudah,” kata ibunya.

“Sekarang setan lagi nangis ya, ma?” tanya anakku.

“Iya, sekarang dia nangis,” kata ibunya.

“Kalau begitu aku mau istighfar lagi, supaya nangisnya lebih lama,” kata anakku sembari menambah istighfarnya. (Ibunda Para Ulama, Sufyan bin Fuad Baswedan, hal. 15-17).

Kisah di atas mengingatkan kita betaqpa pentingnya mengajarkan doa kepada anak sejak dini. Hal ini sebagai langkah awal mengajarkan kepada anak, bagaimana memohon dan berserah diri kepada Allah, serta menanamkan nilai-nilai tauhid sejak kecil.

Bila kita tilik ayat-ayat Al-Quran dan Hadits, maka kita akan temukan sejumlah keutamaan doa. Selaku orang tua, kita harus memahamkan hal ini kepada anak agar dalam dirinya tertanam betapa pentingnya doa dalam kehidupan seorang muslim. Di antara keutamaan doa yang harus kita tanamkan pada diri anak adalah :

Berdoalah kepada Allah, Niscaya Dia Akan Mengabulkannya

Firman Allah Ta’ala, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah [2] : 186)

Firman Allah Ta’ala, “Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (Al-Mukmin [40] : 60). Firman Allah Ta’ala, “Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf [7] : 55-56). Firman Allah Ta’ala, “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai (nya).”(Al-Mukmin [40] : 14). Firman Allah Ta’ala, “Dialah Yang hidup kekal, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabbsemesta alam.”(Al-Mukmin [40] : 65).

Doa Adalah Ibadah

Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Doa adalah ibadah.” Lalu beliau n membaca ayat —yang artinya–, ‘Dan, Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.’ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (Al-Mukmin [40] : 60). (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Doa Adalah Perkara yang Paling Mulia di Sisi Allah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ تَعَالَى مِنْ الدُّعَاءِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Allah Murka kepada Orang yang Tidak Mau Meminta kepada-Nya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Siapa yang tidak meminta kepada Allah, Dia akan murka kepadanya.” (HR. Ahmad, dan Tirmidzi)

Berkaitan dengan hal ini, seorang penyair melantunkan bait-bait syair yang indah : “Hai putraku, jangan sekali-kali engkau meminta keperluanmu kepada manusia. Tetapi mintalah kepada Dzat yang pintu-pintu rahmat-Nya tidak pernah tertutup. Allah murka bila engkau enggan meminta kepada-Nya. Sedangkan manusia murka bila diminta.”

Setiap Doa Akan Mendatangkan Kebaikan

Diriwayatkan dari Abu Said Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Tiada seorang muslim yang berdoa dengan satu doa yang di dalamnya tidak ada unsur dosa dan pemutusan tali silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya satu dari tiga perkara; doanya akan segera dikabulkan; atau akan disimpan untuknya di akhirat kelak; atau akan dihindarkan dari keburukan yang sepadan dengan permintaannya.’ Para sahabat berkata, ‘Kalau begitu kami akan banyak berdoa.’ Nabi menyahut, ‘Allah lebih banyak karunia-Nya’.” (HR. Ahmad)

Allah l Malu kepada Hamba-Nya Bila Menengadahkan Tangannya kepada-Nya Lantas Ditolak

Diriwayatkan dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Rabb kalian Maha Pemalu lagi Mahamulia, Dia malu kepada hamba-Nya bila menengadahkan tangannya kepada-Nya lantas ditolak’.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Doa Adalah Senjata Orang Mukmin

Doa merupakan sebab terkuat untuk menolak sesuatu yang tidak diinginkan, memperoleh yang diminta, dan obat yang paling bermanfaat. Doa adalah musuhnya malapetaka, karena bisa menolak, mengobati, mencegah agar tidak turun, menyingkirkan, atau meringankannya bila telah terjadi. Doa adalah senjata orang mukmin. Kedudukan doa berkaitan dengan bala’ ada tiga: pertama, doa lebih kuat dari bala’ sehingga bisa menolaknya. Kedua, doa lebih lemah dari bala’ sehingga musibah bisa menimpa seorang hamba. Akan tetapi, doa tetap dapat meringankan penderitaannya meski doa itu lemah. Ketiga, keduanya saling bertarung dan masing-masing berusaha mengalahkan lawannya. (Al-Jawabul Kafi, Imam Ibnul Qayyim, hal. 22- 24). Diriwayatkan dari Ibnu Umar c dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ، وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ

“Doa itu bermanfaat untuk (mencegah) bala’ yang telah diturunkan oleh Allah maupun yang belum diturunkan, karena itu berdoalah kalian wahai hamba Allah.” (HR. Hakim dan Ahmad)

Diriwayatkan dari Salman Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda, “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebaikan’.” (HR. Tirmidzi, Hakim, dan Ibnu Majah)

Semoga kita dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk mendidik anak-anak kita secara islami dan mengenalkan mereka tentang kewajiban-kewajiban agama Islam sembari kecil. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: