Memahami Logika Anak

Pagi itu, Hudza minta dibelikan burung Parkit, maklum tetangga sebelah juga memiliki burung Parkit, banyak lagi jumlahnya dan warna warni. Biasanya kalau anak-anak lagi bermain bersama, mereka akan saling memamerkan apa saja yang mereka miliki, salah satunya tentang burung Parkit ini. Saya sendiri kurang begitu tertarik dengan memelihara hewan-hewan seperti itu, entah tidak hobi atau tidak telaten dalam memeliharanya. Dulu aja Hudza pernah diberi 2 ekor burung Pipit oleh tetangga sebelah. Yah, karena tidak telaten memeliharanya, akhirnya yang satu mati dan yang satu saya lepaskan, karena kasihan tidak ada temannya.

Ada kejadian menarik perihal burung Parkit milik tetangga yang jumlahnya banyak sekali itu. Suatu pagi, ketika saya berangkat ke masjid untuk shalat Subuh, dan kebetulan berangkat bersama si empunya burng Parkit tersebut. Sekembalinya dari masjid, tetangga pada ribut dan tegang. Ternyata, seberangkatnya kami ke masjid, ada pencuri yang masuk rumah tetangga tersebut. Dan, prediksinya pencuri tersebut hendak mencuri burung Parkit. Namun, Alhamdulillah, pencuri tersebut belum sempat mengambilnya, lantaran istri tentangga tersebut keburu memergokinya dan berteriak ‘Malinggg.’

Melihat kejadian tersebut, saya mencoba memahamkan anak saya, Hudza, bahwa memelihara burung Parkit, sama saja mengundang maling, seperti kejadian yang menimpa tetangga sebelah. Namun, Hudza tetap bersikeras ingin dibelikan burung Parkit dan menyampaikan berbagai alasan. “Lha, nanti kalau ada pencuri bagaimana?” tanya saya. “Nanti kita kasih tulisan aja, Bi,” jawab Hudza dengan penuh percaya diri. “Tulisan apa,” tanyaku. “Kalau siang hari, kita kasih tulisan : DI SINI ADA BURUNG. Dan, kalau malam hari, kita kasih tulisan : DI SINI TIDAK ADA BURUNG.”

Terus terang, saya menilai logika anak saya tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang pencuri mau peduli dengan tulisan-tulisan itu. Kalau ingin mencuri, pastinya ia akan mencuri, tidak perlu ambil pusing dengan tulisan-tulisan yang terpampang. Tapi, ada satu hal yang saya kagumi dengan cara berpikir anak saya. Walau masih terhitung belia, dia berusaha mengasah kemampuan logikanya dan mengembangkan imajinasinya. Meski kadang logikanya tak logis, namun saya tetap menghargai cara berpikirnya yang berusaha ia keluarkan dan dipahami oleh orang lain.

Sebagai orang tua, memang seharusnya kita harus peka terhadap cara berpikir anak. Sebisa mungkin kita harus terus mengembangkan kemampuan anak, baik dalam menyampaikan opini, alasan, argumentasi, maupun imajinasinya. Jangan patahkan semangatnya dengan mencemooh atau menghina cara berpikirnya. Semoga bermanfaat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: