Bila Anak Bertengkar

Jimmy Tjuhendra Kusuma, anak laki- laki dari pasangan Kasim Tjuhendra Kusuma dan Tjeng Fui Lin, belum juga pulang ke rumahnya di Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara. Sang adik, Rivaldo Kusuma sudah hampir dua pekan tak bermain dengannya. Tak ada lagi kejar-kejaran di dalam rumah, tak ada lagi canda tawa berdua. Karena kerinduannya yang begitu besar untuk bertemu kakaknya itu, ia pun tak mau ketinggalan ikut berpartisipasi bersama ayah dan ketiga kakaknya serta teman sekelas Jimmy dan beberapa kerabat lainnya, melakukan aksi bagi-bagi pamflet  yang berisi foto dan ciri-ciri kakaknya yang hilang itu. “Saya rindu kakak Jimmy, semoga dia bisa cepat pulang,” katanya. Maklum ia sangat rindu, karena selama ini Jimmy yang tak jauh terpaut usia dengan dia, menjadi satu-satunya teman bermainnya di dalam rumah.

Itulah sepenggal kisah hilangnya bocah usia 11 tahun, yang sampai sekarang belum juga kembali atau ditemukan. Tentu kita juga ikut prihatin. Di balik kisah di atas, ada satu hal yang ingin saya sampaikan dan bagikan. Dan ini kayaknya menimpa kebanyakan anak.

Ungkapan Rivaldo di atas, “Saya rindu kakak Jimmy, semoga dia bisa cepat pulang,” mengingatkan saya pada tingkah polah anak-anak saya. Ketika sang kakak tengah sekolah, adiknya yang ada di rumah sering kali bertanya kepada sang ibu, “Kemana mas Hudza, mi?” Seakan-akan sang adik sangat merindukan kehadiran sang kakak. Terlihat dalam raut mukanya kerinduan ingin segera berjumpa dengan sang kakak.

Namun, ketika sang kakak pulang sekolah, Anda mungkin bisa menebaknya apa yang bakal terjadi. Kakak beradik tersebut tak henti-hentinya bertengkar. Suara tangis akan senantiasa menghiasi rumah. Jeritan akan menjadi pemandangan biasa ketika mereka berkumpul. Seakan-akan mereka tak bisa disatukan dalam satu tempat. Itulah anak-anak. Ketika berpisah ingin berkumpul. Namun, saat berkumpul tak henti-henti menimbulkan kegaduhan dan keributan yang berujung pada jeritan dan tangisan.

Sebagai seorang ayah, saya sadar betul karakter mereka. Ketika sang adik mengadu kepada saya lantaran dinakali oleh sang kakak, maka saya akan menganggapnya sebuah kewajaran. Memang sang adik biasanya mencari pendukung agar bisa membalasnya. Namun, tidak bijak bilamana saya langsung memvonis sang kakak bersalah. Saya berusaha memahamkan agar tetap akur dan bermain bersama lagi. Toh, sebentar lagi juga akan akur dan bermain bersama-sama. Itulah anak-anak.

Memang, terkadang kalau sang kakak terlewat batas menganggu sang adik, saya memanggilnya dan mengajaknya berdialog dan berusaha memahamkan agar tetap sayang kepada adiknya. Kepada sang adik, saya berusaha memahamkan bahwa itulah resiko bermain. Harapan saya, anak bisa memiliki pribadi yang sayang kepada sesame serta menumbuhkan ketegaran dalam diri mereka. Dan, sebenarnya prinsip seperti ini pun masih cocok untuk diterapkan kepada kita, selaku orang tua. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: