Menggali Cita-Cita Anak

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah bertanya kepada anak saya yang masih duduk di bangku TK. “Kalau sudah besar mau jadi apa?” dengan jawaban spontan dan lugu, ia menjawab, “Jadi pilot.” Sebuah jawaban yang belum terbesit dalam benak saya sebelumnya. Entah darimana informasi tersebut masuk dalam memori sang anak. Untuk sementara, saya berkesimpulan, bahwa jawaban anak saya tersebut didasari oleh informasi yang ia dapatkan  dari sekolahnya. Boleh jadi, materi sekolah yang tengah hangat dalam benaknya tentang profesi, dan salah satunya perihal tugas seorang pilot.

Saya kadang berfikir dan merenung saat saya masih kecil dulu, ya seusia anak saya saat ini. Dulu pun, saya bercita-cita menjadi tentara. Entah darimana dulu kok saya sangat berharap menjadi tentara. Dalam benak saya dulu, seorang tentara adalah seorang yang gagah berani, memanggul senjata, dan disegani oleh lawan. Pikiran seorang anak akan langsung menganggapnya sebagai sosok yang hebat, layaknya lakon-lakon dalam film kartun kegemaran mereka.

Kembali pada masalah cita-cita seorang anak, selaku seorangayah tentu saya berharap anak-anak saya menjadi ‘orang’. Yang menjadi masalah, kadang istilah ‘menjadi orang’ ini memiliki persepsi yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Orang yang memiliki latar belakang hidupserba kecukupan materi, paling tidak mengharap anak-anaknya seperti dirinya, atau kalu bisa lebih dari dirinya. Orang yang bergelut dalam dunia ilmu, entah seorang penulis atau pengajar, tentu mengharap anak-anaknya menjadi orang yang memiliki keilmuan yang mendalam dan mampu menjadi seorang yang memiliki kontribusi di tengah-tengah komunitasnya.

Sebagai seorang ayah, saya pun berharap agar anak-anak saya menjadi pribadi yang berguna bagi agamanya. Untuk menwujudkan seorang yang berguna bagi agamnya mengharuskan perjuangan dan perjalanan panjang. Tentunya juga harus paham betul seperti apa sosok yang berguna bagi agamanya. Apapun latar belakang dan bidang yang digeluti sang anak, saya sangat berharap anak-anak saya memiliki manfaat bagi agama ini.

Memang, masa depan mereka berbeda dengan masa sekarang. Memang, seharusnya yang menentukan masa depan mereka adalah mereka sendiri. Namun, perlu diingat, bahwa selaku orang tua, kita harus mampu memberikan arahan-arahan agar anak mampu menentukan pilihan masa depannya masing-masing. Mengenalkan mereka hal-hal yang dapat menjadi pegangan mereka dalam menentukan pilihan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: