Homoseksual; Perbuatan Kotor Dunia Akhirat

Ada sebuah penjelasan yang menarik untuk kita cermati bersama berkaitan dengan hukum homoseksual di surga. Yang menjadi pertanyaan; apakah larangan homoseksual hanya berlaku di dunia saja ataukah menjadi hal yang dibolehkan ketika hidup durga kelak? Tentu ini memerlukan penjabaran yang mendalam berkaitan dengan arti sebuah nikmat yang akan diperoleh oleh penduduk surga kelak.

Berkenaan dengan hukum homoseksual ini, Ibnul ‘Aqil pernah menyampaikan sebuah dialog antara Abu Ali ibn al-Walid, seorang berpaham Mu’tazilah,  dengan Abu Yusuf al-Qazwaini :

Abu Ali, “Di surga, menggauli al-wildan (pemuda pelayan surga) dan menikmatinya dengan syahwat tidaklah terlarang. Ini merupakan salah satu dari sekian banyak kenikmatan. Perbuatan tersebut dilarang di dunia lantaran menjadi salah satu bentuk keburukan dan dapat memutus keturunan. Sedangkan, hal tersebut tidak terdapat di dalam surga. Oleh karenanya, di dalam surga dibolehkan meminum khamer karena di dalam surga tidak ada lagi efek mabuknya yang merupakan salah satu faktor pemicu permusuhan dan hilangnya akal.”

Abu Yusuf menjawab, “Ketertarikan kepada sesame jenis termasuk aib dan secara dzatnya adalah perbuatan kotor. Di sisi lain, dubur diciptakan bukan sebagai wahana senggama. Oleh karenanya, perbuatan tersebut dilarang dalam syari’at, berbeda dengan khamer. Dubur adalah tempat keluarnya hadats. Di sisi lain, surga bersih dari berbagai bentuk aib”

Abu Ali menjawab, “Dinamakan aib bilamana tertarik kepada tempat yang mengandung kotoran dan keburukan. Bila hal tersebut telah dihilangkan dan tidak ada lagi proses regenerasi, maka yang tersisa adalah kenikmatan dan kesenangan semata, dan tidak mengandung aib sama sekali.”[1]

Saya lebih sepakat dengan pendapat Abu Yusuf. Bila zina dilarang di dunia ini, lantas apakah dibolehkan di surga kelak? Bila mencuri dilarang di dunia ini, lantas apakah mencuri juga dibolehkan di surga? Bila membunuh tanpa alasan dilarang dunia ini, apakah nanti disurga hal tersebut dibolehkan? Tentu saya tidak boleh. Sebab, dosa tersebut berkaitan dengan pihak lain yang tentunya menyangkut hubungan antar sesama. Wallahu a’lam.


[1] Syams al-Din Muhammad ibn Muflih al-Maqdisi, Kitab al-Furu’ (Muassasah al-Risalah; Baerut, 2003) cet. 1, X/55.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: