Kisah Dua Permen

Ada dua pemen di atas meja. Satu terbuka bungkusnya dan yang satunya lagi masih terbungkus rapat. Tak berapa lama, tiba-tiba datanglah segerombolan lalat dan tergiur ingin mencicipi manisnya kedua permen itu. Tak syak lagi, permen yang terbuka tadi segera saja diserang oleh lalat-lalat tadi. Air liur mereka yang sendari tadi menetes terobati dengan mencicipi manisnya permen yang terbuka. Herannya, permen yang kedua yang masih terbungkus rapi serasa tenang-tenang saja. Demikian juga lalat-lalat tadi pun seolah tidak tertarik, padahal kedua permen tadi memiliki merek dan rasa yang sama.

Permen 1: “Hush, lalat-lalat kurang kerjaan. Memang saya ini permen apaan. Sana pergi. Enak saja mencicipi tubuhku yang manis ini.”

Meski telah diusir berkali-kali, nyatanya lalat-lalat itu tetap saja tak bergeming dan dengan leluasa terus menikmati hidangan geratis tersebut. Bahkan, semakin ramai aja lalat-lalat yang berdatangan.

Permen 1: “Teman, kenapa kamu kok tenang-tenang saja. Dan, aku lihat, kamu kok ndak didekati sama lalat-lalat tak tahu sopan santun ini? Padahal kita khan sama. Sama-sama permen. Sama-sama satu pabrik. Sama-sama rasanya manis. Tapi, kok kamu tetap aman dari serangan para lalat ini.”

Permen 2: “Kawan, memang hakikat kita sama. Pabrik kita sama. Rasa kita sama. Bahkan, warna kita pun sama. Yang membedakan saya dan kamu adalah bungkus ini. Saya aman dan akan senantiasa merasa aman selama masih terbungkus dengan bungkus ini. Kalau pun ada lalat yang ingin mendekat, ia akan merasa sungkan dan akhirnya pergi.”

Permen 1: “Ooo, gitu ya. Pantasan saya lihat lalat itu tidak berani mendakiti. Saya kira rasa dan aromamu tidak enak.”

Lalat-lalat itu masih tetap saja hinggap dan menikmati permen tersebut. Tak lama kemudian, dari kejauhan terlihat segerombolan semut terlihat berbaris menuju kedua permen tersebut. Permen 1 pun semakin panik. “Wah gawat, ada ratusan semut menuju kemari. Bagaimana ini. Wah, bisa bahaya ini. Tubuhku bisa habis dibuatnya.”

Kawan, jilbab disyariatkan oleh Allah Ta’ala untuk kebaikan para muslimah, bukan sebagai bentuk penindasan dan pengengkangan. Allah Maha Tahu akan kebaikan kita. Dan, Allah Maha Tahu bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya disekitar kita.

Kawan, meski kita telah mengenakan jilbab yang rapat sesuai syariat, jangan sampai terlena dengan bahaya yang mungkin dating secara tiba-tiba. Semut dan lalat akan tetap memasang nyali menunggu datangnya kesempatan untuk mencicipi manisnya sebuah permen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: